KOMPI+25

Komunitas Pendidikan Indonesia

Jaringan Komunikasi KOMUNITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Showing posts with label Guru dan Dosen. Show all posts
Showing posts with label Guru dan Dosen. Show all posts

Monday, 10 June 2019

Apakah Pendidikan Rusak Di Jaman “Manusia Teknologi” Sekarang?


Putus Sekolah Bisa Sukses, Kerusakan Dunia Pendidikan?.

Erik P.M. Vermeulen, seorang Profesor | Eksekutif | Inovator. di medium.com, yang selalu berbagi wawasan tentang bagaimana dunia digital mengubah cara kita hidup, bekerja, dan belajarmeyakinkan bahwa memiliki gelar sarjana atau universitas akan membuka lebih banyak peluang. “Saya masih percaya (pandidikan) itu penting. Saya yakin akan hal itu”, tulisnya.

Bagaimanapun, bagi Erick sebagai seorang guru dan menjadi seorang guru sangat bermanfaat. Baginya membantu generasi berikutnya mempersiapkan hal-hal yang akan datang selalu menginspirasi. Pandangannya tentang pendidikan wajar. Tetapi dia harus mengakui dan menyadari ada banyak, bahkan semakin banyak kebenaran dalam gagasan atau pemikiran bahwa seluruh sistem pendidikan telah kita rusak. Mengapa?

Berikut bukti yang dipaparkannya. Bayangkan Anda seorang guru. Anda akan berharap bahwa, secara umum, mahasiswa pascasarjana lebih siap untuk masa depan daripada sarjana. Sophomores akan lebih terbuka terhadap hal-hal baru daripada siswa tahun pertama. Siswa senior akan memiliki gagasan yang lebih baik tentang apa yang terjadi daripada siswa junior. Tidak pantas Guru bisa berharap sebaliknya kan? Tampak jelas bahwa semakin seseorang "naik" dalam pendidikan, semakin baik dia mendapatkannya.
Namun, pengalaman baru-baru ini menunjukkan yang sebaliknya. Ya, kita semua tahu tentang kisah seseorang yang sukses putus sekolah/ universitas.

Mengajar siswa pada tahun pertama biasanya melibatkan pengajaran dasar dengan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan. Itu menyenangkan tetapi tidak bisa dibandingkan dengan diskusi mendalam tentang masyarakat, tren masa depan, dan perkembangan dengan siswa yang lebih senior. "Semakin senior," semakin baik percakapannya.

Tetapi belakangan, itu mulai berubah. Siswa junior secara bertahap menjadi lebih tertarik pada apa yang terjadi di dunia (revolusi teknologi, masalah lingkungan, dll.). Sebaliknya bahwa siswa senior semakin kurang terbuka untuk berpikir di luar kebiasaan. Jujur, kita tidak bisa menyalahkan merek.

Sebenarnya, konten dan gaya pengajaran belum banyak berubah selama dekade terakhir. Memang, dalam kurikulum sekolah kita menemukan lebih banyak teknologi. Namun, teknologi baru dan baru (dan bagaimana hal itu mengubah cara kita hidup, bekerja, dan belajar) itu, belum menjadi bagian integral dari sebagian besar program. Jadi, dalam konteks ini, masuk akal bagi siswa untuk berpegang teguh pada apa yang telah mereka pelajari. Hal terakhir yang ingin mereka dengar adalah bahwa kita saat ini sedang mengalami revolusi yang membuat model, teori, dan doktrin yang telah mereka pelajari menjadi usang.

Sampai sekarang, pendekatan itu mungkin tidak masalah. Urusan dengan gangguan/ masalah sebelumnya selalu menemukan cara untuk "bertahan hidup." Dan, meskipun kita telah menjadi lebih bergantung secara digital (kami mencintai media sosial dan tidak dapat bekerja tanpa terhubung secara digital), cara kerja masyarakat dan ekonomi belum berubah secara signifikan.

Jadi, mengapa kita khawatir? Apa yang berbeda sekarang? Dan mengapa harus berpikir sistem pendidikan rusak dan perlu diperbaiki?

Memanusiakan Teknologi itu Normal

Erick memaparkan tentang tren desentralisasi dan ledakan pertumbuhan teknologi (yang pasti, dia yakin kedua hal ini juga benar), tetapi sebagian besar melibatkan prediksi masa depan. Dan kita semua tahu bagaimana itu bisa terjadi. Namun, sesuatu yang lain sudah terjadi sekarang. Sesuatu yang menarik dan penting. Erick menyebut "Manusia teknologi" dimana semakin sedikit gangguan manusia (dalam memikirkan algoritma, belajar mandiri dan jaringan saraf yang mengatur sendiri).

Kita dapat melihat tiga tren (kebanyakan dari mereka terkait dengan kecerdasan buatan, Internet of Things dan konektivitas) yaitu :

Personalisasi. Teknologi telah memungkinkan untuk menerima pengalaman yang lebih pribadi dari produk dan layanan. Waktu produksi massal berakhir. Semuanya tentang personalisasi. Semakin banyak kita menggunakan produk atau layanan, semakin pintar mereka mendapatkannya. Mereka menjadi semakin personal. Kita memiliki hubungan dengan teknologi.
Kemitraan. Teknologi menjadi mitra atau asisten kami. Jika semuanya menjadi rumit, kami meminta komputer untuk belajar bagaimana membantu kami. Algoritma pembelajaran yang dalam mendorong pembelajaran mandiri jaringan saraf.
Interaksi. Teknologi cepat beradaptasi dengan kita. Kami tidak membutuhkan banyak pelatihan untuk menggunakan teknologi lagi. Antarmuka pengguna menjadi lebih manusiawi. Kami semakin berinteraksi dengan teknologi "seolah-olah" kami berinteraksi dengan manusia. Kontrol suara. Pengenalan wajah. Sensor.

Dengan cara ini, tanpa kita sadari teknologi menjadi bagian integral dari kehidupan kita. Dan ini fantastis. Ini menawarkan begitu banyak peluang ; Kenyamanan, Penyederhanaan dan Penyertaan.

Tapi usia " manusia teknologi" yang sudah lepas landas, berbahaya. Kita perlu memiliki pemahaman yang lebih baik tentang apa yang sedang terjadi. Selain itu, kita (dan generasi berikutnya) harus lebih siap untuk dunia di mana kita hidup tanpa hambatan, bekerja, dan belajar dengan mesin.

Apakah Sistem Pendidikan Masih Relevan?

Apa yang harus menjadi pilar utama pendidikan di era ‘manusia teknologi’?

Keterampilan digital. Dalam hal ini Erick tidak merujuk pada keterampilan yang memberi seseorang akses dan membantunya berinteraksi dengan teknologi. Ini lebih pada tentang memahami bagaimana manusia teknologi bekerja, bagaimana operasinya, bagaimana membuat keputusan. Ketika teknologi menjadi lebih manusiawi, kita juga harus memastikan bahwa itu berperilaku seperti yang diharapkan manusia. Tapi bisakah kita mempercayai teknologi? Keamanan dan etika muncul dalam pikiran. Perlindungan (data, privasi) dan regulasi harus tertanam dalam manusia teknologi. Guru hanya dapat melakukan itu ketika Guru memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang apa yang terjadi dalam " manusia teknologi".

Keterampilan manusia. Erick merujuk pada keterampilan yang tidak dimiliki komputer dan mesin otonom (dan tidak bisa). Kemampuan berkomunikasi. Kreativitas yang asli (dan tidak ditiru).

Mengajar bagaimana dan apa yang harus dipelajari. Dunia berubah dengan cepat. Kita harus belajar "bagaimana dan apa yang harus dipelajari" di dunia yang terkait teknologi digital dan manusia. Generasi selanjutnya harus mengerti cara belajar. Ini juga tentang ‘branding’ diri : Bagaimana seseorang bisa membedakan diri dari orang lain? Bagaimana seseorang bisa menunjukkan kreativitasnya? Bagaimana seseorang bisa menggunakan teknologi sebagai alat promosi diri?

Kata kunci dari semua ini adalah "relevansi." Di zaman manusia teknologi, kita harus memastikan bahwa generasi berikutnya tetap relevan, dan terkendali. Dan kita hanya bisa berhasil jika kita terus memastikan bahwa pendidikan masih tetap relevan.

FBZ seorang penulis di medium.com yakin bahwa pendidikan sangatlah penting. Sangat-sangat penting. Secara tidak langsung, selama beberapa tahun dari masa hidup bangsa, pemerintah bisa bebas memasukkan ilmu dan pengetahuan, yang mungkin telah dipilih dan disaring yang mana yang menguntungkan bagi negara, untuk kita pelajari. Kita dididik baik secara hard skill maupun soft skill agar kita menjadi individu yang diinginkan negara. Kita dilatih agar negara setidaknya bisa bertahan hidup meskipun terseok-seok di era globalisasi ini. Dan kita menerimanya.

Pertanyaannya, sudah berapa lama yang sudah dihabiskan bangsa ini di sekolah? Pasti tidak singkat. Lalu, pernahkan kita berandai-andai, bahwa bangsa ini bisa menggunakan waktu di sekolah itu untuk melakukan suatu hal yang lain? Sesuatu hal yang mungkin kitapun tidak tahu karena tidak punya waktu untuk mencari tahu? Sekarang, sekolah mungkin bukan lagi pilihan!

Selayaknya ‘sekolah’ adalah suatu keharusan sebagai usaha untuk mencapai hidup yang lebih baik. Kita dituntut untuk menjadi orang yang cerdas dan serba bisa, mampu memanipulasi fakta, membuat pencitraan yang baik, dan akhirnya, kita akan berada di tempat dimana kita bisa hidup senang.

Sayangnya, sistem pendidikan telah membuat kita lebih memikirkan diri kita sendiri baru orang lain. Jadi, kita harus mendapat nilai bagus dulu, kerja di perusahaan mapan, kaya, jadi kita bisa membantu orang lain. Seperti itu kah? Sistem pendidikan, seakan menghilangkan sifat-sifat baik manusia, hanya demi bisa bertahan hidup. Hanya sedikit manusia yang mampu mempertahankan sifat baiknya.

Pemerintah Indonesia, sepertinya belum puas hingga selalu mengganti sistem pendidikan yang ada. Seperti yang kita tahu dan rasakan, bahwa pendidikan adalah hal vital yang berpengaruh terhadap sifat suatu bangsa. Kita mau mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi nyatanya, kita hanya terus berkembang dan berkembang. Lalu, apakah lantas mengganti sistem pendidikan akan menyelesaikan semua masalah? Apakah dengan kita bercermin kepada negara-negara maju, lantas kita bisa menyelesaikan permasalahan kita? Tentu saja tidak. Jika kita mencoba mengikuti suatu sistem milik negara lain yang memang sudah berlaku dan berhasil di negara lain, apakah mental anak bangsa bisa siap menghadapi perubahan yang begitu cepat?

Dalam sistem pendidikan kita, dituntut untuk mendapatkan nilai yang baik, dituntut untuk menjadi yang terbaik, yang kompetitif, mempunyai daya saing dan daya tahan hidup. Kita dijejali dengan banyak ilmu dan pengetahuan tanpa tahu untuk apa kita mengetahui hal itu, atau bahkan, tanpa tahu cara menggunakannya. Sehingga, maklumlah jika akhirnya ilmu itu akan hilang dan tidak akan terpakai karena kita sendiri tidak menghargaimya.

Sekarang, apakah sistem pendidikan yang terus-menerus diganti akan memberikan suatu solusi, dan kita hanya harus terus mengganti sampai secara kebetulan, kita menemukan sistem yang tepat? Mengapa kita tidak bertanya kepada diri kita sendiri, apa akar permasalahan dari sistem pendidikan? Apa yang membuat sistem ini tidak efektif? Murid Mahasiswa? Guru? Dosen? Orang tua? Lingkungan? Pemerintah? Atau jangan-jangan ini suatu konspirasi dari negara maju untuk membuat kita tetap berkembang dan membuat kita menjadi sumber daya yang sangat nikmat bagi mereka? Mungkin semuanya benar, mungkin hanya salah satu atau beberapa yang benar. Mungkin juga jawabannya tidak terdapat pada pernyataan di atas.

FBZ ingin mengingatkan kita terhadap satu sistem pendidikan yang membuat baik murid maupun guru dan pihak-pihak terkait sama-sama berpikir, menganalisis, mencari masalah dan jawaban bersama.

Cara mengajar Socrates.

Socrates adalah seorang filsuf, dia adalah guru dari Plato yang namanya kita pasti tahu dan kenal. Socrates mengajar dengan cara berdiskusi. Ia bertanya dan bertanya untuk mengetahui apa yang dipikirkan lawan diskusinya, sehingga otak akan bekerja dengan baik, konstruktif. Lalu,ketika sang lawan sudah tidak mampu lagi menjawab karena sudah mencapai batas kemampuan menjawabnya, Socrates kemudian membuat sang lawan diskusi ini merefleksikan pikirannya, sehingga akan tercapai jawaban yang rinci dan runut dari sebuah permasalahan. Dalam refleksi tersebut, kedua belah pihak bersifat sebagai guru dan murid, belajar bersama-sama melalui dialog-dialog yang membangun suasana pembelajaran yang aktif, dalam mencapai sebuah jawaban. Metode ini disebut andragony, dimana pengetahuan melibatkan subjek secara aktfif.

Tentunya, kita semua tahu sistem ini tidak bisa diterapkan di dalam kelas yang berisi lebih dari 5 orang karena, semakin banyak orang, semakin sedikit kesempatan untuk berbicara. Namun, apakah sistem belajar mengajar agar efektif, harus dilakukan secara massal pada jam-jam tertentu agar materi didapatkan oleh murid? Pertanyaan yang lebih penting lagi adalah, apakah pembelajaran sekarang hanya mengejar tersampaikannya materi, tanpa peduli dengan aftermathnya?

Ya, sekarang, kita harus segera saling refleksi dan menemukan solusi. Mungkin!

Baca artikel asli disini


Sunday, 9 June 2019

Info Pendaftaran Program Beasiswa Kuliah 2019 Dari Pemerintah

Umumnya pendaftaran beasiswa 2019 dilakukan secara online. Anda perlu membuat akun dan menyiapkan dokumen aplikasi dalam bentuk soft copy dan mengunggahnya di akun online yang telah dibuat. Selain itu, sebagian beasiswa juga bisa dilamar dengan mengirimkan berkas fisik melalui pos.

Silakan klik link beasiswa untuk penjelasan lebih lanjut.

Beasiswa Guru

Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikbud memberikan bantuan beasiswa S-1 bagi guru di Indonesia melalui program "Program Bantuan Pemerintah untuk Peningkatan Kualifikasi Akademik S1/D4. Informasi beasiswa ini disampaikan melalui surat edaran Dirjen GTK No. 4082/B.B3/GT/2019 tanggal 22 Mei tahun 2019 dan ditujukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi/Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.

Pendaftaran program pemerintah ini akan dibuka sampai dengan 31 Mei 2019 dengan ketentuan sebagai berikut: Kriteria beasiswa Beasiswa S-1 diberikan kepada guru jenjang  TK, SD, SMP, SMA, SMK dan SLB terbagi dalam 4 kategori:
1. Sedang studi S-1
2. Pernah studi S-1
3. Lulusan diploma (D1/2/3)
4. Lulusan SMA/SMK. 

Tahapan pendaftaran
1. Guru dapat mendaftar secara daring melalui laman resmi dan wajib memiliki NUPTK (Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dan email aktif. Baca juga: Tawaran Beasiswa Penuh S-2 Guru Madrasah Diniyah di UIN Sunan Ampel
2. Mengisi form pendaftaran beasiswa memasukan NUPTK. Jika benar maka nama guru akan terisi otomatis. Masukan alamat email dan sandi, klik untuk persetujuan 'syarat dan ketentuan' kemudian klik tombol "Daftar".
3. Jika berhasil akan muncul notifikasi selanjutnya pendaftar dapat melakukan pegecekan pada akun email yang didaftarkan. 
4. Klik tautan "Verifikasi Pendaftaran" dalam email yang diterima selanjutnya dapat masuk menggunakan username dan password yang telah didaftarkan.
5. Klik menu profil untuk melengkapi data pribadi, jika sudah selesai klik "simpan" untuk mengamankan data yang telah diisi.
6. Klik menu "data tambahan", kemudian isikan riwayat pendidikan, pengalaman pelatihan dan penghargaan.

Kelengkapan dokumen
1. Surat Keputusan (SK) Pengangkatan sebagai guru.
2. Ijazah pendidikan terakhir.
3. Transkip nilai, sertifikat pendidikan dan pelatihan, piagam penghargaan.
4. Surat pernyataan belum berkualifikasi S1
5. Surat pernyataan tidak sedang memperoleh bantuan pendidikan dari Instansi/Lembaga lain (Tanda tangan bermaterai, diketahui kepala sekolah) 

Kelengkapan dokumen
1. Surat Keputusan (SK) Pengangkatan sebagai guru.
2. Ijazah pendidikan terakhir.
3. Transkip nilai, sertifikat pendidikan dan pelatihan, piagam penghargaan.
4. Surat pernyataan belum berkualifikasi S1
5. Surat pernyataan tidak sedang memperoleh bantuan pendidikan dari Instansi/Lembaga lain (Tanda tangan bermaterai, diketahui kepala sekolah) 

Infomasi lengkap, tautan pendaftaran hingga draf surat pernyataan dapat diakses melalui tautan berikut: https://gtk.kemdikbud.go.id/banpems12019/login/register

Beasiswa Lainnya

Beragam pilihan beasiswa masih tersedia untuk bisa Anda ikuti. Berikut ini adalah peluang beasiswa S1, S2, dan S3 yang pendaftarannya sedang dibuka untuk tahun akademik 2019 – 2020 maupun 2020 – 2021.

Deadline : 30 September 2019
Deadline : 9 Mei 2019
Deadline : 20 Juni 2019

▪ Beasiswa S1 di Humber College, Kanada
Deadline : 17 Mei 2019

▪ Pendaftaran Beasiswa S2 Pemerintah Korea 2018
Deadline : Ditetapkan masing-masing kampus

 ▪ Pendaftaran Beasiswa PPA 2018 untuk Mahasiswa S1/DIV dan D3
Deadline : Ditetapkan masing-masing kampus


Selamat mencoba. Semoga berhasil!


Friday, 17 August 2018

Ternyata, Hingga Kini Masih Ada Guru Yang Terabaikan



Terlepas dari banyaknya kabar negatif profesi guru, masih banyak guru yang dengan segenap hati mengabdi dan jadi pahlawan sesungguhnya.

Dwifa, seorang guru perempuan dan pendiri sekolah Madrasah Tsanawiyah (MTs) Zikir, di Desa Tik Teleu, Kecamatan Pelabai, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, (Selasa, 9/1/2018) menyebutkan, sekolah itu dibangun atas dasar rasa khawatir akan tingginya angka putus sekolah di daerah itu. Sekolah yang terlihat memprihatinkan itu itu dibangun pada 2011. Separuh gedungnya terbuat dari papan dan semen, sedangkan plafonnya rusak di beberapa bagian. Gedung tersebut merupakan pinjaman dari pemerintahan desa. Terdapat 38 siswa dan delapan guru sebagai tenaga pengajar. Menurut Dwifa, menjadi guru di MTs Zikir, merupakan bentuk kekhawatiran kami atas kondisi kampung halaman. Jadi, enggak mikir gajilah. Untuk kehidupan sehari-hari, dia dan suami menjadi petanijelasnya.

Hiriani, guru lainnya, yang paling yunior karena baru enam bulan bergabung di sekolah itu, berharap pengetahuan yang dimiliki dari perguruan tinggi dapat dibagi buat remaja di desa. Ia tidak mempersalahkan masalah gaji yang hanya Rp 100.000 per bulan.

Dua tahun berdiri, pada 2011 dan 2012 terdapat 14 tenaga pengajar. Selama dua tahun, 14 guru tidak digaji sama sekali. Lalu, masuk 2013 hingga 2015, barulah para guru mendapatkan gaji dari Kementerian Agama. Dananya diambil dari Bantuan Operasional Siswa (BOS). Tahun 2013 hingga 2015 gaji diterima per bulan sekitar Rp 30.000 dibayar per tiga bulan. Tiga bulan terima Rp 90.000. Gaji sebesar itu berlanjut hingga 2016, barulah naik menjadi Rp 100.000 per bulan.

Sukamdani, Kepala Sekolah MTs Zikir Pikir. Sukamdani yang memiliki gelar master pada bidang agama Islam lebih memilih kembali ke kampung halaman daripada tawaran menjadi dosen di beberapa perguruan tinggi. Saat ini sekolah itu memiliki tanah sekitar satu hektar sebagai wakaf dari masyarakat. Namun, pihaknya belum dapat memanfaatkan tanah wakaf itu karena terkendala biaya pembangunan gedung.

Perjuangan Hamidah perempuan kelahiran Makassar 7 Desember 1969, sebagai guru penuh tantangan, karena untuk mengajar di sekolahnya, dia harus mengarungi lautan. Hamidah mengajar di SDN 6 Selat Nasik yang berada di Pulau Kuil. Hamidah, guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 6 Selat Nasik, Kabupaten Belitung, Provinsi Bangka Belitung, menerima penghargaan sebagai juara pertama Guru SD Berdedikasi di Daerah Khusus. Hamidah di Jakarta, (Sabtu, 19/8/2017) mengatakan bahwa kiprahnya sebagai guru di sekolah, daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), membuahkan hasil. Kalau ombaknya lagi tinggi, ya, tidak bisa ke mana-mana.

Pulau Kuil merupakan salah satu pulau yang ada di Kecamatan Selat Nasik. Pulau tersebut terletak di Selat Gaspar, yang memisahkan antara pulau Bangka dan Belitung. Sekolah dasar tempatnya mengajar itu merupakan satu-satunya sekolah di pulau itu. Suami dan kedua anak Hamidah tinggal di Tanjung Pandan, Ibu Kota Kabupaten Belitung. Baru satu kali dalam sebulan, dia bisa menemui anak dan suaminya. Untuk mengajar di sekolah itu, dia harus rela jauh dari suami dan kedua anaknya. Semua itu dia lakukan agar anak-anak didiknya mendapatkan pengajaran. Kalau ombaknya tinggi, baru 2 bulan sekali pulang ke rumah. Di Pulau Kuil tersebut, sinyal telepon seluler termasuk barang langka yang kadang ada dan kadang hilang. Di Pulau Kuil, dia tinggal di rumah dinas guru yang tidak jauh dari tempatnya mengajar. Rumah dinas yang ditempatinya pun terbilang sangat sederhana serta belum dialiri listrik. Untuk sekadar mengisi ulang ponselnya, dia harus berjalan kaki ke rumah warga yang berjarak sekitar 3 kilometer. Di rumah warga, listrik berasal dari mesin diesel, bukan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Itu pun hanya hidup mulai pukul 18.00 hingga 21.00 WIB.

Hamidah Wali Kelas Satu itu, sudah mengajar di sekolah itu sejak 2001, sejak pengangkatan dia sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Semasa menjadi guru honorer, dia mengabdi di SDN di Pulau Gersik yang lebih ramai daripada Pulau Kuil. Lama perjalanan dari Pulau Gersik ke Pulau Kuil sekitar 2 jam.

Menurut Hamidah mengajar di daerah khusus, memiliki tantangan tersendiri. Selain sarana dan prasarana yang masih tertinggal, juga dihadapkan dengan pandangan masyarakat yang belum menganggap penting pendidikan. Para orang tua bilang, 'Buat apa sekolah. Tidak sekolah pun, mereka bisa cari uang dan ke Tanah Suci'. Para orang tua, lebih suka mengajak anak-anaknya pergi mencari nafkah daripada sekolah. Apalagi, ketika musim mencari ikan tiba, anak-anak yang seharusnya sekolah malah pergi melaut bersama orang tuanya selama berbulan-bulan. Dia dan guru-guru lainnya terkadang harus datang ke rumah-rumah mencari murid. Anak-anak itu baru kembali ke sekolah beberapa bulan kemudian setelah pulang dari melaut. Tidaklah heran jika murid di sekolah itu terbilang sedikit. Pada awal mengajar di sekolah itu, murid yang ada kelas satu hingga kelas enam hanya 23 orang.

Jangankan berharap anak sudah mengenal huruf, memegang pensil pun banyak yang belum bisa. Meskipun demikian, potensi anak-anak di pulau itu juga tak kalah dengan anak-anak di perkotaan. Banyak anak-anak di sekolah itu yang sering ikut lomba olimpiade sains hingga ke tingkat provinsi. Cuma untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, terbilang sedikit karena belum ada SMP di pulau itu. Kalau melanjutkan ke SMP, mereka harus keluar dari pulau itu. Hanya 25 persen dari lulusan sekolah itu yang melanjutkan pendidikan. Sisanya menjadi nelayan, seperti umumnya para orang tua di pulau itu.

Sebelumnya, setiap bulannya ada tunjangan khusus untuk guru yang mengajar di daerah 3T. Tetapi sejak 2017, guru-guru yang mengajar di daerah 3T di Bangka Belitung, tak lagi mengenyam manisnya tunjangan itu.

Bukan hanya guru, Makmuri pria 52 tahun, Kepala SD Wotgalih 3, Kecamatan Pangkah, Tegal, Jawa Tengah, harus menyeberangi dua sungai besar dan menelusuri hutan dengan jalan kaki agar bisa mengajar siswanya. Jumlah siswa di sekolah yang dipimpinnya tersebut hanya 34 anak. Jumlah gurunya 10 orang.

Kendati dari rumah di Desa Penusupan, Kecamatan Jatinegara, Tegal, menggunakan sepeda motor, Makmuri tidak bisa langsung sampai di sekolah. Sebab, kondisi jalan terputus oleh aliran sungai besar. Alhasil, motornya terpaksa ditinggal di tepi sungai. Perjalanan ke sekolah pun dilanjutkan dengan berjalan kaki dan menyeberangi Sungai Rambut. Sepatunya yang sudah disemir dari rumah harus dilepas. Setelah menyeberang sungai, dia berjalan melewati hutan sejauh sekitar 2 kilometer. Tentu saja, jalannya tidak semulus di Kota Slawi. Dia harus berhati-hati karena bisa terpeleset dan jatuh di jalan yang berlumpur. Lolos dari rintangan itu, Makmuri harus menyeberangi kali lagi, yakni Sungai Lohgeni. Kalau arus sungai meluap, sering kali harus menunggu berjam-jam hingga air surut. Tapi, kalau tidak surut juga, ya pulang.

Nasib guru honorer sekolah tak sebanding dengan kebutuhan zaman sekarang. Mereka harus perpeluh dengan gilasan zaman dengan mengandalkan gaji setiap bulan sebesar Rp 200 ribu per bulan. Padahal, jasanya mengajar untuk mencerdaskan anak didik bangsa sudah berkisar 15 hingga 25 tahun.

Sudiono Saputro yang tergabung dalam Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Lampung kepada (Republika.co.id Rabu (2/5) di Bandar Lampung, mengatakan, gaji guru honorer sekolah swasta saat ini, selain tidak pernah naik gaji honor setiap tahun, harapan untuk menjadi pegawai negeri juga selalu terhalang. Gaji kami guru honorer mulai dari Rp 200 ribu dan paling tinggi Rp 500 ribu. Ada yang sudah mengajar 15 tahun dan paling lama 25 tahun tapi honor segitu saja. Sudiono sendiri sudah menginjak masa kerja guru honor selama 20 tahun lebih.

Menurut dia, guru honor di sekolah-sekolah swasta sama berartinya dengan guru aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS). Mereka sama-sama mengajar mata pelajaran di kelas, waktu masuk sekolah dan pulang seolah juga sama, serta beban mengajar juga sama, tapi penghargaan kepada guru honorer sangat miris sekali. Peran guru swasta dan negeri sama yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Bedanya, kesejahteraan guru honor apalagi swasta sangat miris dari kesejahteraan guru pegawai negeri.

Kuswanto, guru SMP swasta di Kabupaten Lampung Selatan menyatakan, nasib guru honorer semakin tidak jelas dari pemerintah. Padahal, tugas guru sama dengan guru lainnya mengajar anak bangsa. Para guru honorer ingin menjadi ASN.

Sekretaris DPRD Lampung Kherlani mengatakan Pemprov Lampung dan DPRD mengakomodasi tuntutan para guru honor. Tuntutan guru tidak berlebihan untuk dihargai dengan diangkat menjadi ASN. Kewenangan diangkat ASN adalah pemerintah pusat. Pemprov akan merekomendasikan tuntutan para guru tersebut ke pusat. Kemungkinan para guru honorer sekolah swasta menjadi ASN masih sangat terbuka, namun harus bergantung dari kebutuhan tenaga guru, apalagi saat ini masih digodok rancangan undang undang ASN.

Ribuan guru swasta yang tergabung dalam Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) menuntut kesetaraan status. Mereka mendorong DPR merevisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Orator demonstrasi di depan Gedung MPR/DPR menyebut setidaknya 3.000 guru swasta hadir. Mereka menilai regulasi yang ada diskriminatif terhadap guru swasta.

Ketua Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Mohammad Fatah menilai guru swasta di Indonesia bak dianaktirikan. Diskriminasi dan praktik ketidakadilan terhadap guru-guru tersebut justru muncul dari negara. Pernyataan itu menyusul terbitnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 48 Tahun 2005 tentang pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS, diberlakukannya PP Nomor 56 Tahun 2012 tentang Pengangkatan Tenaga Honorer menjadi CPNS, kemudian terbitnya Undang-Undang (UU) Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Parahnya lagi, DPR juga berencana akan merevisi UU Nomor 5 Tahun 2014. Perundang-undangan itu tidak adil memperlakukan guru di sekolah swasta karena hanya fokus pada guru di sekolah negeri. Hanya honorer yang mengajar di sekolah negeri yang diangkat menjadi CPNS. Amanah UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen, maupun PP Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru secara tegas tidak membedakan profesi mulia itu. Entah itu guru di sekolah swasta, maupun guru yang mengajar di sekolah negeri. Dalam aturan itu tidak menyebutkan. Pemerintah mendikotomikan guru. Pemerintah juga gagal mengemban amanah Pancasila. Utamanya sila ke-5 dan UUD Tahun 1945 Pasal 28 D ayat 2. (Medcom.id.)

SUMBER :

Thursday, 26 July 2018

Begini Cara Mendukung Kesehatan Mental Guru

Ketika seorang siswa meminta bantuan Anda, itu karena mereka percaya dan menghormati Anda. Terkadang menjadi orang yang berubah menjadi beban bisa menjadi beban. Ketika siswa memercayai Anda, tentu saja Anda ingin melakukan semua yang dapat Anda lakukan untuk membantu mereka. Tetapi kadang-kadang sulit untuk mengetahui apa yang harus dikatakan, bagaimana membantu, atau siapa yang meminta saran. Lagi pula, Anda bukan seorang konselor terlatih. Jadi di sini ada beberapa pesan utama yang perlu diingat untuk menjaga siswa, tetapi juga menjaga diri sendiri.

Sebagai guru,  Anda memiliki hubungan yang unik dengan orang-orang muda dan karena itu sering mengetahui, atau disadarkan, ketika anak-anak muda sedang mengalami masa sulit secara emosional. Mengetahui cara mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan Anda sendiri, dan kemampuan siswa Anda sangat penting dalam menyediakan lingkungan belajar yang mendukung. Ini sangat penting untuk kesejahteraan Anda sendiri, dan kesejahteraan siswa dalam perawatan Anda, bahwa Anda mampu menangani situasi ini dengan tepat.

Informasi ini akan:
berikan pesan-pesan kunci tentang cara menjaga diri dan siswa Anda
daftar tanda-tanda kunci untuk diwaspadai di kelas Anda.
Guru dengan kelas pengajaran buku pelajaran geografi
Cara memberikan dukungan kepada siswa

Pesan kunci
  • Tunjukkan Anda peduli dan beri mereka waktu dan perhatian. Seringkali siswa tidak membutuhkan apa pun lebih dari seseorang yang bersedia hanya ada untuk mereka. Memiliki orang dewasa tepercaya yang dapat mereka ajak bicara merupakan faktor perlindungan yang penting.
  • Jadilah diri Anda sendiri dan bersiaplah untuk mendengarkan dan memahami apa yang terjadi pada siswa.
  • Jadilah tidak menghakimi, sabar, tenang, dan menerima. Pelajar mungkin enggan membicarakan masalah mereka karena mereka tidak ingin mengecewakan siapa pun, tetapi mereka perlu tahu mereka melakukan hal yang benar dengan berbicara dengan seseorang.
  • Ketahuilah bagaimana dan kapan harus pergi ke orang lain untuk meminta bantuan. Dorong siswa untuk mencari bantuan sendiri. Mereka mungkin merasa didukung jika Anda menawarkan untuk pergi bersama mereka ketika mereka berbicara dengan penasihat sekolah atau penasihat kesejahteraan.

Jika Anda merasa mendalam, jangan coba-coba menghadapi situasi sendirian. Jika Anda merasa bahwa masalahnya serius atau Anda khawatir akan kesejahteraan siswa, Anda harus melaporkannya kepada Kepala Sekolah Anda. Sebagai wartawan wajib, guru diminta untuk melaporkan situasi di mana mereka percaya bahwa orang muda berisiko terkena bahaya.
Terkadang seorang siswa tidak datang kepada Anda untuk meminta bantuan, tetapi mereka mungkin berperilaku dengan cara yang membuat Anda khawatir tentang mereka. Bagaimana Anda tahu kapan harus campur tangan? Ada beberapa tanda peringatan yang bisa Anda perhatikan. Tetapi penting untuk diingat bahwa salah satu dari ini saja (hanya dalam waktu singkat) adalah normal, tetapi jika Anda mengetahui seorang siswa dengan beberapa tanda ini berlangsung lebih dari beberapa minggu, mereka mungkin memerlukan bantuan dari luar.

Tanda yang harus diperhatikan termasuk:
  • terus berpikir atau berbicara tentang masalah mereka
  • bertindak dan menjadi sangat tidak cakap (misalnya, orang yang pendiam menjadi keras dan liar atau orang yang keluar menjadi sangat pendiam)
  • ledakan emosi yang tak terduga
  • memiliki masalah dengan tidur - tidur terlalu banyak atau tidak cukup
  • perubahan kebiasaan makan - tidak makan sama sekali, atau makan dan kemudian muntah
  • menggunakan obat-obatan atau alkohol
  • mengambil bagian dalam situasi yang tidak aman atau berani seperti ngebut di mobil dan berhubungan seks tanpa kondom
  • menghindari teman dan acara sosial yang biasanya menjadi bagian mereka
  • ancaman atau pembicaraan tentang bunuh diri
  • bertindak atau berbicara seperti tidak ada yang peduli tentang mereka; tidak ada yang akan memperhatikan jika mereka pergi, atau dunia akan menjadi tempat yang lebih baik tanpa mereka.

Jika Anda memiliki kekhawatiran untuk kesejahteraan siswa maka jangan takut untuk menyampaikan kekhawatiran Anda kepada mereka. Mereka akan sering merasa lega bahwa seseorang telah memperhatikan dan cukup peduli untuk menanyakan bagaimana mereka akan pergi.
Jika kekhawatiran Anda dikonfirmasi, maka penting untuk memberi tahu staf yang tepat di sekolah untuk memastikan bahwa siswa menerima bantuan dan dukungan yang mereka butuhkan untuk tetap aman. Setiap sekolah akan memiliki kebijakan yang mengidentifikasi proses untuk memberitahukan kekhawatiran tentang risiko bahaya kepada siswa.

SUMBER :
https://schools.au.reachout.com

KABAR TEMAN

ARSIP

*** TERIMA KASIH SUDAH BERKUNJUNG *** SEMOGA BERMANFAAT *** SILAHKAN DATANG KEMBALI ***
Komunitas Pendidikan Indonesia. Theme images by MichaelJay. Powered by Blogger.
Hai, Kami Juga Hadir di Twitter, like it - @iKOMPI25
Kirim Surat